Pekerja asing tinggal di asrama karyawan, beberapa menit berjalan kaki dari hotel. Terkadang sulit untuk membuat mereka memahami aturan kehidupan sehari-hari, seperti memilah sampah dan berhati-hati dengan sumber api, tetapi kami telah membuat manual multibahasa untuk mengatasinya.
Tidak sedikit ketidaknyamanan seperti tidak adanya fasilitas hiburan di dekat hotel dan asrama, dan tempat berbelanja yang terbatas pada mini market dan supermarket kecil. Untuk mengimbangi hal ini, kami berupaya meningkatkan fasilitas tempat tinggal agar mereka betah menetap, misalnya dengan memasang Wi-Fi di asrama dan membuat kantin karyawan yang memenuhi standar halal. Ada salah seorang pekerja asing kami yang pandai bermain gitar dan bernyanyi, dan telah berteman baik dengan pemilik bar lokal, dia diundang “jika ada konser, kamu tampil ya”, kami bahagia dengan terciptanya interaksi dengan masyarakat lokal. .
Banyak staf yang ingin mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (JLPT), tetapi karena tempat ujian pusat di Kota Sapporo yang berjarak sekitar 400 km, agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan ujian, kami memastikan mereka mendapatkan hari libur yang berurutan, serta membantu mereka dalam memesan tiket pesawat dan akomodasi.
Apa yang dirasakan "lazim" oleh orang Jepang tidak berlaku untuk pekerja asing, termasuk pekerja asing berketerampilan spesifik (TG). Mulai sekarang ketika menerima staf asing, kami selalu menanamkan di kepala apa yang harus dilakukan untuk membuat mereka nyaman bekerja, dan menghubungkannya dengan perilaku sehari-hari, seperti "berbicara dengan bahasa Jepang yang mudah dimengerti dan dengan perlahan".